Pappaseng Pengabdian dan Kepemimpinan
Belum genap dua tahun pengabdian di lingkungan pesantren, namun beragam aktivitas dan dinamika telah menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga. Pendalaman kepemimpinan, penguatan public speaking, pelayanan publik bagi santri dan masyarakat, hingga program pengembangan diri, semuanya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter dan kepekaan.
Amanah demi amanah terus mengalir, berlanjut pada pengabdian tridarma perguruan tinggi di berbagai kampus Islam. Pada titik ini terngiang pappaseng Anregurutta’:
“Patterumoi karirta, nak lettukki matu mancaji profesor; de’pa gaga urancang de’na berhasil.”
Pesan tersebut menjadi komitmen untuk terus mengabdi melalui membaca, menulis, meneliti, dan memublikasikan karya ilmiah, dengan harapan selalu berada dalam tuntunan para guru.
Pengabdian juga menghadirkan pelajaran penting tentang kepemimpinan. Setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang dipikulnya. Karena itu, kepemimpinan menuntut kelayakan, integritas, dan kesiapan diri.
Ketika kepemimpinan hadir dalam bentuk jabatan, ikhtiar adalah keniscayaan, namun etika harus tetap dijaga. Terpatri pesan Allahu yarham Dr. KH. Aan Farhani, Lc., M.A.:
“Jika ingin duduk di depan, jangan memaksakan diri. Layakkan diri, niscaya akan ada tangan yang menarik ke depan.”
Nasihat ini terus relevan dalam setiap zaman.
Di tengah pergantian kepemimpinan di sejumlah perguruan tinggi keagamaan, harapan besar tertuju pada lahirnya pemimpin yang kredibel, progresif, visioner, magetteng na malempu. Kepemimpinan alumni pesantren yang mumpuni diharapkan mampu memadukan khazanah klasik dan pemikiran kontemporer demi kemajuan pendidikan keagamaan dan terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Selamat kepada para Gurutta’. Semoga pendidikan tinggi keagamaan semakin progresif dan berdaya saing di masa depan.

Komentar
Posting Komentar